//
you're reading...
04. Logistics on News

Logistik dan Infrastruktur Harus Dibenahi

JAKARTA – World Economic Forum (WEF) menaikkan peringkat daya saing (global competitiveness report/GCR) Indonesia ke posisi 44 atau naik 10 tingkat pada periode 2010-2011. Kendati demikian, pemerintah dinilai masih harus membenahi masalah logistik dan infrastruktur.

“Logistik dan infrastruktur masih menjadi PR kita. Tapi, ini sudah menjadi prioritas pemerintah,” kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Jakarta, akhir pekan lalu.

Hampir senada, Deputi Bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edy Putra Irawady menilai kenaikan peringkat daya saing tidak dibarengi dengan ketersediaan infrastruktur secara memadai.

“Ini tercermin dari kondisi infrastruktur RI masih di peringkat 82, khusus jalan di posisi 84 dan ketersediaan pasokan listrik di posisi 97,” kata Edy.

Selain masalah infrastruktur, Indonesia harus memerhatikan bidang kesehatan, terutama penanganan penyakit tuberkulosis (TBC) dan malaria, serta tingginya angka kematian bayi. Apalagi, tingkat kematian bayi di Tanah Air masih tertinggi di dunia. Pemerintah juga harus membenahi permasalahan tingkat penggunaan information and communication technologies (ICT) yang rendah, yakni di posisi 103.

Ditopang Makro Ekonomi

Edy menuturkan, prestasi Indonesia naik 10 tingkat, menjadi salah satu yang terbaik dalam ajang pemeringkatan WEF. Skor yang diperoleh Indonesia sebesar 4,43, ha- nya tertinggal 1,2 dari Swiss yang menempati posisi puncak dalam daftar peringkat daya saing tersebut.

Prestasi ini terutama dipicu oleh kondisi makroekonomi yang sehat serta perbaikan pada indikator pendidikan. Indonesia berhasil mempertahankan kondisi makro ekonomi tetap sehat pada saat krisis ekonomi berlangsung. Keberhasilan ini membawa Indonesia naik 18 tingkat ke posisi 34 dari sisi kesehatan makro ekonomi. “Ketikabanyak negara mengalami defisit bujet kami berhasil mengatasi masalah ini dengan sangat baik,” ujarnya.

Dalam kajian WEF, kata Edy, kondisi utang publik tetap pada titik yang terkendali, yakni 31% dari gross domestik product (GDP). Kemudian, tingkat tabungan me ningkat sebesar 33% dari GDP danlaju inflasi pada 2009 menurun menjadi 4,8% atau separuh dari inflasi tahun sebelumnya.

Peningkatan peringkat daya saing diyakini berpotensi menaikkan peluang bisnis. Untuk itu, pemerintah siap mempertahankan daya saing tetap di level yang baik.

“Rating investasi kita baik, peluang bisnisnya bagus, pemerintah sekarang sikapnya corporate state run economy. Artinya, pemerintah bersikap seperti korporasi dalam menjalankan ekonomi, khususnya dalam menjaga daya saing negara dan swasta. Dengan demikian, APBN harus bugar supaya rating investasi bagus,” papar Edy.

Di sisi lain, hasil survei tahunan Economic Barometer (eBar) dari PricewaterhouseCooper Indonesia (PWC) juga menyebutkan para eksekutif senior masih mengkhawatirkan masalah infrastruktur dan reformasi hukum. Selain itu, para responden menilai peme-rintah harus mengatasi masalah ketidakpastian hukum dan penerapan pajak.

“Para responden merasa bahwa hal-hal tersebut adalah hambatan utama yang akan mempengaruhi pertumbuhan bisnis mereka dalam 12 bulan mendatang,” kata Chairman PricewaterhouseCoopers Indonesia Jusuf Wibisana baru-baru ini.

Dia menambahkan, survei yang dilakukan terhadap 124 eksekutif senior di Indonesia dari berbagai macam industri menunjukkan bahwa 85% responden memiliki pandangan lebih positif terhadap pertumbuhan perekonomian nasional dibanding dengan hasil survei tahun lalu. Responden percaya tingkat inflasi berada di bawah 5% dan pertumbuhan PDB dalam 12 bulan mendatang berada di kisaran 5-6% atau naik 1% dibanding tahun lalu.

Berbeda dengan tingginya jumlah responden yang optimistis terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi nasional, sikap mereka ter-hadap prospek pertumbuhan ekonomi global lebih konservatif. Hanya sekitar 43% responden berpandangan positif terhadap prospek ekonomi global.

Prospek Perusahaan

Sementara itu, para responden optimistis terhadap pertumbuhan kinerja perusahaan mereka. Bahkan, 95% responden memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap prospek pertumbuhan pendapatan perusahaan untuk satu tahun mendatang atau meningkat 18% dibanding survei tahun lalu.

Sebanyak 56% responden berharap pertumbuhan perusahaan mencapai dua digit dan hanya 5% yang mengantisipasi pertumbuhan negatif di tahun mendatang.

“Perkiraan ini jauh lebih optimistis dibanding hasil tahun lalu. Tahun lalu, sebanyak 23% responden memprediksi adanya pertumbuhan negatif,” ujar Jusuf, (tri)

Oleh Thomas E Harefa dan Indah Handayani – sumber : bataviase

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: