//
you're reading...
02. Sharing Corner

Seni Mengelola Bisnis Logistik

Mengelola bisnis logistik cukup rumit karena prosesnya panjang: mulai dari depan pintu pelanggan hingga ke pintu tujuan. Inilah pengalaman praktik manajemen logistik beberapa perusahaan.

Sepintas bisnis logistik tampak sepele. Maklum, urusannya cuma memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Padahal, kalau kita telusuri, alurnya panjang dengan proses bertahap. Secara garis besar, proses bisnis logistik bisa digambarkan: mengambil barang di tempat klien, membawanya ke kantor perusahaan logistik, memilahnya, mengemasnya lagi, menyimpannya di gudang, selanjutnya mengirimnya via darat, laut, udara hingga ke tangan penerima.

Bahkan, buat perusahaan one stop logistic, urusan tidak berhenti sampai di situ. Sebab, dalam pengiriman barang ke luar negeri via udara, misalnya, sesampai di bandara negara tujuan, barang kiriman dimasukkan ke gudang lagi untuk kemudian diproses bea cukainya. Setelah itu, barang dikirim ke cabang-cabang kantor perusahaan logistik jaringan mancanegara untuk diteruskan ke tempat pelanggan.

Terkait dengan tahapan A-Z pengiriman barang hingga ke tujuan, prosesnya tidak selalu berjalan mulus. Ketua Asosiasi Logistik Indonesia Zaldy Ilham Masita merumuskan tiga hal krusial yang kerap ditemui dalam bisnis ini: SDM, infrastruktur dan regulasi. SDM logistik kita masih jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara lain. Akibatnya, industri ini jadi tidak efisien karena biayanya tinggi. Rendahnya kualitas SDM juga disebabkan oleh minimnya jumlah sekolah logistik. Infrastruktur logistik pun kurang efisien. Lihat saja antrean panjang di pelabuhan, sehingga manajemen waktu terganggu. Soal krusial regulasi, rantai birokrasinya terlalu panjang akibat banyaknya departemen pemerintahan yang terlibat.

Menurut Clive Philips, VP Pemasaran dan Penjualan PT Repex Wahana (RPX), soal waktu juga merupakan hal krusial. “Time is critical,” ujar Philips. Menurut dia, keluhan pelanggannya beragam. Salah satunya, masalah molornya barang sampai ke tujuan. Keterlambatan ini dipicu banyak faktor, antara lain penundaan penerbangan.

Nah, untuk mengatasi munculnya masalah-masalah krusial itu, dibutuhkan praktik manajemen yang ideal di bidang pengelolaan waktu, pergudangan (warehousing), armada, SDM, teknologi informasi (TI), jejaring, infrastruktur, alih daya, keluhan pelanggan, dan sebagainya.

Pengelolaan waktu di PT Birotika Semesta – pada 1982 mengakuisisi linsensi DHL untuk Indonesia — dilakukan lewat pengontrolan standar operasional: saat pesawat mendarat, bagaimana pengelolaannya di gateway, di-clearance berapa lama, setelah itu bagaimana proses pendistribusian ke service center, dan berapa lama delivery-nya. Proses clearance diupayakan paling lama sehari. “Pada proses ini tergantung juga pada jenis komoditas yang dikirim dan berapa besar nilai barang tersebut, sehingga perlu penanganan lebih lanjut atau tidak,“ ujar Edi Prayitno Hirsam, Manajer Pemasaran Nasional Birotika Semesta.

Manajemen pergudangan biasanya dilakukan oleh perusahaan logistik yang lebih maju. PT Dunia Express Transindo (DET), misalnya, mula-mula orientasi bisnisnya hanya melayani trucking, selanjutnya mengarah ke warehouse. “Dulu kami hanya menawarkan armada truk, dan kalau butuh warehouse pinjam teman. Tapi tahun 2000 kami mulai memikirkan bagaimana agar perusahaan ini punya nilai tambah,” kata Aulia Febrial Fatwa, Kepala Divisi Logistik dan Distribusi DET. Kini DET memiliki gudang seluas 20 hektare di Sunter, Jakarta Utara, dan 500 unit armada truk.

Bagaimana dengan manajemen SDM? Philips memberi contoh komitmen RPX dalam memperbaiki mutu karyawan secara berkala. “RPX punya ekspektasi tinggi terhadap kualitas SDM,” katanya tandas. Pihaknya menggunakan Key Performance Indicator untuk mengontrol kualitas layanan SDM, khususnya di bagian frontliner. “Pada prinsipnya, manajemen logistik RPX menganut filosofi PSP (people, service, profit),” kata M. Kadrial, Direktur Pengelola Grup RPX, menambahkan. Artinya, dengan memiliki SDM yang punya skill bagus, perusahaan bisa melayani pelanggan dengan baik sehingga jumlahnya bertambah. Ujung-ujungnya, dengan jumlah pelanggan yang banyak, profit pun meningkat.

Sejak berdiri tahun 2000, RPX senantiasa memperbarui manajemen TI. Menurut Kadrial, hingga kini RPX telah membangun lebih dari 50 sistem untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Sitem itu dimulai dari domestic tracking, customer automation system, RPX GPS, warehouse management system, clearance tracking hingga shipping history. Sistem TI yang terintegrasi juga didukung oleh dedikasi 23 karyawan tim TI serta fasilitas RPX yang punya dua pesawat kargo, 350 truk dari ukuran kecil hingga kontainer 40 feet.

Kebijakan TI DHL, Edi menegaskan, disesuaikan dengan besarnya kebutuhan jaringan yang menggunakan Management Information System (MIS). Itu memungkinkan DHL menjangkau wilayah terpencil. Ada divisi Quality Control Center yang melacak setiap pergerakan barang. “Semuanya harus berbasis TI. Kalau kami siap buka di satu tempat, berarti kami sudah terhubung dengan jaringan economy system sampai di sana,” kata Edi sembari mengungkapkan, pangsa pasar DHL di Indonesia mencapai 52%.

DHL Indonesia mengelola bidang logistik melalui tiga unit bisnis yang dikenal dengan DHL Express and Logistic Class: PT DHL Express Indonesia, PT DHL Global Forwarding dan PT DHL Exel Supply Chain. Ketiga perusahaan ini mengemas industri logistik melalui industri ekspres, freight forwarding dan supply chain management. Perusahaan ini mengelola: pengiriman jasa ekpres, freight melalui laut dan udara, transportasi darat sampai solusi logistik, juga layanan surat internasional yang dipadukan dengan jaringan yang menjangkau seluruh dunia.

Ketiga unit bisnis DHL diklaim Edi memiliki kompetensi. DHL Express punya gudang, inventori dan transportasi yang menangani pengiriman dokumen dan paket di bawah 250 kg dengan door to door express (dokumen dan paket yang dikirim cepat). Lalu, DHL Global Forwarding adalah sarana transportasi yang mengangkut kiriman dalam jumlah besar atau minimal 250 kg melalui udara dan laut. Sementara DHL Exel Supply Chain lebih banyak mengelola warehouse pelanggan, inventori dan distribusi.

Oleh : Eva Martha Rahayu – Reportase: S. Ruslina – sumber : swa majalah

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: