//
you're reading...
01. Best Practice

Mereka yang Unggul di Bisnis Logistik

Sejalan dengan tumbuhnya bisnis logistik, persaingan antarpemainnya pun makin ketat. Perusahaan logistik mana saja yang unggul di segmennya?

Peluang bisnis logistik di Indonesia masih terbuka lebar. Ini sejalan dengan semakin banyaknya perusahaan – baik bertaraf nasional maupun multinasional – yang memakai jasa pihak ketiga untuk menangani aktivitas logistiknya. Dengan demikian, perusahaan itu bisa lebih fokus pada bisnis intinya. Pertimbangan efisiensi dan produktivitas yang lebih tinggi menjadi alasan utama perusahaan untuk memanfaatkan jasa perusahaan logistik.

Kendati belum ada data yang pasti, Andrianto Soedjarwo, GM Penjualan dan Pemasaran PT Fajar Insan Nusantara (Fin Logistics), memperkirakan, pasar bisnis logistik di Indonesia selalu meningkat. “Tahun ini, nilainya sudah melebihi US$ 1,2 miliar, baik asing maupun domestik, dan angka itu diprediksi tiap tahun akan meningkat sekitar 12%,” katanya memprediksi.

Kondisi itulah yang memicu persaingan di industri logistik. Tidak hanya antarpemain logistik asing, melainkan juga dengan perusahaan logistik lokal yang berlomba-lomba menawarkan pelayanan terbaiknya. Tak mengherankan, persaingan bisnis logistik pun sangat ketat, yang ditandai dengan melimpahnya jumlah pemain. Di wilayah Jakarta saja, menurut catatan Asosiasi Logistik Indonesia, terdapat lebih dari 300 perusahaan logistik. Sementara jasa titipan, menurut Asosiasi Jasa Titipan, ada sebanyak 635 perusahaan.

Nah, kalau kita melihat tren sekarang, sejumlah perusahaan logistik sudah mengarah ke pelayanan solusi logistik total, yaitu memberi pelayanan kepada pelanggan setidaknya meliputi distribution network design, warehousing dan transportasi. Seperti diakui M. Kadrial, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo), usaha jasa titipan pun sudah cenderung terintegrasi dengan usaha logistik sehingga menciptakan solusi logistik total. ”Bidang usaha ini sekarang mulai tidak ada lagi pembatasan antara kiriman ekspres, nonekspres ataupun logistik,” ia menegaskan sambil menginformasikan usaha jasa titipan di Indonesia mencapai Rp 3,2 triliun dan tiap tahun tumbuh 10%.

Meski demikian, jika dikategorisasi berdasarkan layanan dasarnya, peta penyedia jasa logistik setidaknya meliputi angkutan laut (shipping); angkutan udara (kargo); angkutan darat (trucking); freight forwarding; pergudangan dan distribusi; ekspres/kurir; dan distributor. Pengategorian ini bisa dilihat ketika perusahaan pertama kali berdiri dan memberi pelayanannya ke pelanggan. Tentu saja, semua perusahaan terus mengembangkan bisnisnya tidak hanya dalam satu kategori di bisnis logistik ini.

Lalu, perusahaan manakah yang unggul di masing-masing kategori di industri logistik ini? Sekadar menyebut contoh berdasarkan hasil riset SWA, di bidang shipping ada PT Berlian Laju Tanker Tbk. (BLT), PT Samudera Indonesia dan Tempuran Emas. Freight forwarding: Mitra Intertrans Forwarding, Kamadjaja dan Fin Logistics. Trucking/transportasi: Dunia Express, Go Trans, dan Puninar. Ekspres/kurir: DHL/Birotika Semesta, TNT Indonesia/Skypak International dan Pandu Siwi. Warehouse & distribusi: Ceva, DHL Exel, GAC Samudera Logistics. Distributor: Tigaraksa, Wiralogitama, dan Enseval Megatrading

Apa keunggulan mereka? Peter Chayson, GM Departemen Hubungan Investor BLT, mengatakan, perusahaannya bisa dibilang menguasai angkutan untuk bahan kimia dan migas di Indonesia. Malah, saat ini BLT merupakan tiga terbesar di dunia setelah Odfjell dan Stolt-Nielsen. Perusahaan yang berdiri sejak 1981 ini pertumbuhan bisnisnya semakin besar ketika mengakuisisi Chembulk Tankers LLC, Amerika Serikat, Desember 2007.

Hal ini menjadikan operasional BLT luar biasa besar dan daerah cakupan geografinya hingga seluruh dunia, sementara sebelumnya masih konsentrasi di Asia dan Timur Tengah. Sekarang, BLT memiliki 85 unit kapal dengan perincian: 59 kapal tanker, 15 kapal tanker minyak, 10 kapal gas tanker dan 1 kapal FSPO. “Hingga 2011 kami akan menerima 20 kapal baru secara bertahap,” Peter mengatakan.

Sementara itu, Fin Logistics yang didirikan Soedjarwo Sudarmo tahun 1977 memang sudah konsentrasi ke layanan freight forwarding sejak awal. Fin Logistics terus berkembang dengan membuka beberapa cabang. Sekarang, Fin sudah memiliki tiga kantor di Jakarta dan 8 kantor perwakilan lain, mulai dari Denpasar, Surabaya, Medan, Batam, Bandung, Balikpapan, Semarang dan terakhir yang baru dibuka, Yogyakarta. Jumlah armada yang dimiliki ada sekitar 27 unit truk ukuran sedang dan besar.

Menurut Andrianto, untuk memperluas dan mempermudah jaringan di tingkat internasional, Fin bekerja sama dengan beberapa agen global. Misalnya, tahun 2001 Fin menggandeng Hellmann Worldwide Logistics yang memiliki 341 kantor di 134 negara di seluruh dunia. Selain itu ada juga partner lain yaitu MOL Logistics. “Kami bisa dikatakan total logistik, tapi konsentrasinya lebih ke freight forwarding,” ia menegaskan. Kontribusi untuk freight forwarding ini bisa mencapai 70% dari total pendapatan perusahaan. Sementara pertumbuhan bisnisnya per tahun 20%-30%.

Di binis kurir, TNT Express Indonesia mulai beroperasi di Indonesia tahun 1979 dengan nama PT Skypak International. Jaringan operasional TNT meliputi 33 kota besar di Indonesia, didukung 17 kantor cabang, 14 agen, 10 depot, 6 gateway (Jakarta, Surabaya, Batam, Medan, Denpasar, dan Balikpapan), serta 600 karyawan di seluruh Indonesia.

Dijelaskan Andy Adiwinarso, Country Director Penjualan dan Pemasaran Skypak, sekarang fokus perusahaannya tidak hanya jasa pengiriman dokumen dan barang berskala kecil-sedang, tapi juga yang besar-besar. Maka, pada April lalu, TNT International telah mendatangkan pesawat jenis kargo Boeing 747-400 yang memiliki rute penerbangan Eropa-Singapura-Cina-Eropa untuk memperkuat basis pengiriman jasa logistik terutama ekspor-impor. Selain itu, TNT Indonesia juga mempersiapkan 200 lebih armada darat berupa mobil dan truk untuk mendukung pergerakan barang pengiriman. “Penambahan armada itu komposisinya 50%-50% antara yang baru dan yang diremajakan,” ujar Andry

Sementara itu, saudara kandung TNT Express, yaitu Ceva, hadir di Indonesia sejak 1995. Awalnya bernama TNT Logistics, tahun 2006 berubah nama menjadi Ceva Logistics. “Kami menangani pergudangan, perkapalan, distribusi dan transportasi,” ungkap Rita Boyle, Country General Manager Contract Logistics PT Ceva Logistik Indonesia (CLI).

Jenis layanan Ceva meliputi penyimpanan di gudang, pengangkutan darat, pengiriman, pengapalan barang. Saat ini, pelanggan Ceva, antara lain, BlueScope, PT Dynaplast Tbk., BASF, Sanova, Electrolux, Three (operator seluler), Sari Husada, Chandra Asri dan Titan Chemicals.

Tahun depan Ceva mencoba menambah portofolio bisnisnya yaitu di bidang otomotif dengan melakukan distribusi produk bahan rakitan mobil dan suku cadang yang didatangkan dari berbagai negara. “Kami membantu perusahaan otomotif mengalirkan raw material mereka untuk pengiriman dari satu titik ke titik lainnya,” Subhan Novianda, Country IT Manager CLI, mengungkapkan.

Tak ketinggalan, Grup Pandu Siwi merupakan kelompok usaha dengan beberapa anak perusahaan, di antaranya PT Pandu Siwi Sentosa (PSS), yang fokus pada usaha pengiriman ekspres domestik (domestic express delivery), manajemen pergudangan dan jasa distribusi. Kemudian, PT Indah Jaya Express, yang berorientasi internasional dengan lini usaha freight forwarding, express delivery & logistic provider. Lalu PT Trimitra Bella Transindo (domestic sea land transportation and relocation). Ketiganya dikenal dengan nama Pandu Logistics sebagai benchmark-nya.

Usaha Pandu Siwi digulirkan pada 16 tahun silam dan sekarang ini memiliki 154 kantor cabang di berbagai daerah. Armadanya mencapai 500 unit mobil boks dan puluhan mobil tronton. Karyawannya pun terus bertambah mencapai 1.100 orang, serta gudang seluas 5 ribu m2. Aliansi pun dijalin, seperti dengan Geo Nakia Cargo (Jepang) dan International Freight and Logistic Networks Inc. (AS), sehingga pelayanan logistik terpadu Pandu Siwi bisa merambah global, seperti ke Asia Timur, Timur Tengah, Eropa, Australia, AS hingga Afrika.

“Saat ini, kami bisa dibilang telah masuk ke third party logistics karena telah mencakup jasa logistik, kurir, pergudangan dan distribusi,” ujar Handi Syarif, Direktur Pengelola PSS. Menurutnya, Pandu Logistics awalnya memang usaha kurir untuk dokumen dan barang skala kecil. Namun, seiring banyaknya permintaan konsumen untuk mengirimkan barang skala besar, akhirnya perusahaan ini mengembangkan usaha mereka. “Bisa dibilang selama 16 tahun berdiri, separuh perjalanan adalah perusahaan kurir, dan selanjutnya adalah kurir dan logistik,” Handi memaparkan.

Pertumbuhan PSS pun dinilai baik karena mereka tak segan menggelontorkan modal kerja hampir 90% dari pendapatan setiap tahunnya. “Tapi dalam dua-tiga tahun terakhir ini hanya mencapai 70%,” tutur Handi. Dengan strategi ini, tak heran dalam waktu singkat perusahaan memiliki cabang yang tersebar hingga tingkat kabupaten. Tak heran pula, Handi pun meyakini dalam urusan jasa ekspres domestik, PSS bisa diklaim sebagai pemain terbesar. “Tapi secara keseluruhan kami masuk peringkat tiga besar untuk perusahaan lokal dalam hal jasa ekspres dan logistik,” ujar Handy.

Jimmi Krismiardhi, GM Pengembangan Bisnis PSS, menambahkan bahwa jaringan yang luas menjadi poin penting dalam bisnis jasa kurir ekspres dan logistik yang kini mereka jalankan. Pelanggan korporat yang telah berhubungan dengan mereka di wilayah Jakarta mencapai angka 2.000. “Pelanggan korporat itu bisa terukur dan lebih loyal,” kata Handi. “Tapi juga banyak permintaan dan tantangannya.” Namun, PSS tetap mengincar pasar ritel, walaupun saat ini langkah mereka belum bisa dikatakan agresif dalam menggarap pasar ini. “Kami harus benar-benar mempersiapkan pasar korporat secara baik sebelum fokus ke ritel,” Jimmi berujar.

Satu lagi, PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistics), perusahaan ini telah mewarnai kancah industri logistik Tanah Air sejak tahun 1997. Dengan memfokuskan diri pada logistik proyek dan solusi logistik total, CKB lebih banyak menggarap perusahaan yang bergerak di industri migas dan energi, pertambangan, EPC, power system, alat-alat berat dan telekomunikasi. “Kami memiliki jangkauan area yang luas dengan 29 cabang yang sebagian besar tersebar di dekat kawasan pertambangan di seluruh Indonesia,” ucap Stefanus Didi Hartanto, Manajer Pengembangan Bisnis CKB Logistics.

Yang pasti, persaingan di bisnis logistik ini tak akan pernah surut. Para pemainnya akan terus menawarkan pelayanan yang komprehensif agar tak ditinggalkan pelanggannya.

Reportase: Fadlly Murdani, Moh. Husni Mubarak dan Rias Andriati – Riset: Rahmat Purnadi – Kamis, 09 Oktober 2008 – Oleh : Dede Suryadi – sumber : swa majalah

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: