//
you're reading...
02. Sharing Corner

Mencari Solusi di Tengah Gencetan Kendala Ekspor

Krisis finansial global dan kecenderungan proteksionisme menjadi tantangan dan kendala terbesar bagi kalangan eksportir saat ini. Masih ditambah, hambatan nontarif yang makin beragam wujudnya. Solusinya?

Pada 4 Februari 2009 di Jakarta, Menkeu Sri Mulyani mengumpulkan 15 duta besar Indonesia yang siap bertugas di mancanegara. Ada apa? “Para dubes yang akan bertugas ini perlu dibekali pengetahuan mengenai kebijakan Indonesia yang tetap mengupayakan pelaksanaan komitmen kerja sama internasional,” kata Plt. Menko Perekonomian ini kepada pers.

Pembekalan seperti ini sebenarnya hal biasa, tetapi terkesan lumayan istimewa. Penyebabnya, tak lain adanya terpaan krisis finansial yang melanda dunia – termasuk Indonesia – beberapa waktu belakangan ini, yang berimbas pada perubahan konstelasi kebijakan global. Salah satu hal krusial yang diingatkan, adanya kecenderungan negara-negara di dunia yang menerapkan kebijakan proteksionisme demi memprioritaskan kepentingan dalam negerinya. Contohnya, Amerika Serikat yang selama ini menjadi salah satu tujuan ekspor penting Indonesia, belakangan di bawah pemerintahan Obama mengampanyekan program Buy America demi menggalakkan konsumsi produk dalam negerinya. “Upaya peningkatan ekspor Indonesia tentu akan menghadapi kendala akibat adanya kecenderungan proteksionis dari masing-masing negara,” kata Sri Mulyani mengingatkan dengan nada prihatin.

Kadin Indonesia memperkirakan pada kuartal kedua 2009 saja, ekspor Indonesia bisa turun hingga 20%. Menurut M.S. Hidayat, Ketua Umum Kadin Indonesia, salah satu pemicu utama penurunan ini adalah langkah proteksi yang dilakukan sejumlah negara, termasuk negara-negara G-20. Ia menengarai ada 17 negara dari 20 negara yang tergabung dalam G-20 yang menunjukkan tendensi melakukan langkah ini. “Gerakan Buy America yang dicanangkan AS menjadi pukulan besar bagi Indonesia mengingat besarnya ekspor Indonesia ke negara tersebut,” kata Hidayat, seraya menyebutkan di kuartal pertama penurunan sudah mencapai 30%.

Padahal, di luar kekhawatiran terhadap kecenderungan proteksionisme tersebut, pelbagai kendala lainnya selama ini juga membayangi kegiatan ekspor Indonesia. Ada kendala yang bersifat umum, yang dihadapi oleh seluruh eksportir Indonesia. “Kendala umum yang biasanya dihadapi pelaku usaha lokal yang membidik pasar global adalah terbatasnya dukungan finansial, branding, paten, dan pengembangan produk,” kata Hesty Indah Kresnarini, Kepala BPEN Departemen Perdagangan, kepada Ahmad Yasir Saputra dari SWA.

Di luar itu, Tim Riset SWA juga mencatat beberapa kendala umum lainnya, seperti: tingginya tingkat persaingan di mancanegara, daya beli konsumen di luar negeri yang menurun, harga komoditas ekspor yang juga naik-turun, hambatan tarif dan nontarif yang diterapkan negara tujuan ekspor, keterbatasan dukungan transportasi, penerapan standar produk yang tinggi oleh negara tujuan ekspor, dan sebagainya. Selain itu, ada pula kendala yang bersifat spesifik yang dihadapi oleh sektor ataupun jenis produk ekspor tertentu. Kendala itu bisa bersifat internal alias berasal dari lingkungan pelaku ekspor dari Indonesia sendiri, atau bisa pula dari lingkungan eksternal pelaku ekspor (lihat tabel mengenai kendala ekspor).

Menurut Thomas Darmawan, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan & Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), secara umum hambatan tarif masuk bukan lagi masalah, karena relatif sudah sangat murah. Yang dirisaukan adalah kemungkinan makin banyaknya hambatan nontarif (non-tariff barrier), apalagi di tahun mendatang. Ia mencontohkan di industri makanan, hambatan itu bisa berupa penerapan standar keamanan makanan. Lalu, isu lingkungan semisal carbon footprint – yakni jumlah karbon yang dihasilkan dari pembuatan suatu produk – yang diperkirakan bakal masuk agenda pertemuan di Stockholm November mendatang. “Ini jadi tantangan ke depan kita,” katanya.

Tentu saja, kendala berupa hambatan nontarif yang diterapkan oleh negara tujuan ekspor amat berpengaruh terhadap kinerja ekspor Indonesia, apabila pasarnya berkontribusi signifikan seperti AS. Menurut Hidayat, akibat sikap AS yang dalam situasi krisis global ini ingin lebih melindungi produk dalam negerinya, Indonesia menghadapi sejumlah kendala ekspor yang lebih kuat. Merujuk pada laporan Atase Perdagangan Indonesia di AS kepada Kadin baru-baru ini, Hidayat menyebutkan setidaknya ada 9 kendala/hambatan. Contohnya, adanya kebijakan Pemerintah AS mengatur impor pangan di bawah ketentuan Bioterrorism Act 2002. Juga, adanya kontrol dalam penggunaan tembakau yang akan melarang perdagangan impor dan distribusi produk rokok beraroma, termasuk sigaret keretek. Yang tak kalah menyengat, adanya isu dumping atas produk wood flooring dan hardwood plywood dari beberapa negara seperti Cina, Kanada, Malaysia, Brasil, Rusia dan Indonesia.

Hambatan nontarif secara signifikan dirasakan oleh komoditas hasil pertanian Indonesia – selain sektor ini juga bermasalah dalam hal kualitas, volume produksi, dan logistik. Tak jarang, negara maju menggunakan berbagai persyaratan buat menghambat masuknya komoditas pertanian ke pasar mereka. Contohnya, produk ekspor buah dan sayuran Indonesia. “Persyaratan mutu, keamanan pangan, sanitary and phytosanitary (SPS), memang sudah menjadi persyaratan yang tidak bisa ditawar lagi,” ujar Ahmad Dimyati, Dirjen Hortikultura, Departemen Pertanian, kepada pers baru-baru ini.

Hal tersebut misalnya diakui Sandy Widjaja, pemilik PT Hawila, yang dalam setahun terakhir ini sudah mengekspor produk sayur-mayur ke Singapura. Persyaratan standar yang diminta antara lain menyangkut spesifikasi kualitas produk, cara penanganan produk pertanian, pengemasan dan pengiriman. “Kami tadinya sempat takut jangan-jangan produk kami dianggap tidak qualified dan bakal banyak di-reject,” katanya mengakui.

Masalah ketatnya standardisasi produk mungkin lebih dirasakan oleh para eksportir dengan tujuan ekspor Jepang. “Jepang adalah barometer bagi produk ekspor dunia. Karena itu, negara ini sangat ketat dalam hal proses, mulai dari karantina hingga produk sampai di tempat,” kata Dhian Rahadian, pemilik CV Sanindo Putra yang sudah mengekspor produk tepungnya ke Negeri Sakura. Bahkan, dengan alasan standar ketat ini, mesin harus didatangkan dari Jepang, yang dibeli Sanindo dengan cara mencicil.

Selain standardisasi, kendala lain yang kerap dihadapi oleh eksportir Indonesia adalah persyaratan dari negara tujuan ekspor yang mewajibkan produk yang masuk mengikuti sertifikasi lokal. Ini dialami PT Chubb Safes Indonesia yang “terpaksa” harus menyertifikasi produknya di negara tujuan ekspor, misalnya sertifikasi CCC di Cina, ECBS di Uni Eropa, Australian Standard di Australia, VdS di Jerman, dan sebagainya. Untuk mendapatkan sertifikasi tersebut, produk Chubb Safes harus lulus uji yang ketat dari lembaga sertifikasi independen, dan biayanya tidak murah.

Hambatan yang juga mungkin muncul berupa tuduhan dumping. Gusmardi Bustami, Dirjen Kerjasama Perdagangan Indonesia, Departemen Perdagangan RI, mengakui, tuduhan dumping bisa muncul kapan saja, karena negara tujuan ekspor berusaha mengamankan produk dalam negerinya. Maka, ia mengingatkan agar para eksportir nasional tidak semata mengejar untung dengan membanting harga.

Suhendra Wiriadinata, Direktur PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills, mengaku hingga kini pihaknya masih sering menerima tuduhan melakukan dumping, khususnya dari AS. Produk Pindo Deli yang terkena tuduhan dumping antara lain kertas cetak tanpa salut merek Golden Coin. “Produk kami jadi sulit masuk karena adanya tuduhan dumping,” kata Suhendra kesal.

Di industri kreatif yang umumnya masih berskala UKM seperti Siji Lifestyle, yang membuat produk kerajinan house ware, kendalanya karena pembeli di luar negeri tak punya referensi soal reputasinya. “Mereka tidak percaya begitu saja pada website yang menawarkan jual-beli online,” ujar Achmad K. Rivai, pemilik Siji Lifestyle. Kendala lainnya, seperti umumnya industri kreatif yakni kurangnya pengetahuan akan tren desain yang disukai di luar negeri.

Kendala-kendala tersebut tentu amat berpengaruh terhadap kinerja dan perkembangan ekspor para eksportir nasional. Contohnya sudah jelas, dengan sikap AS yang makin proteksionis, ada penurunan nilai ekspor cukup signifikan ke AS. Bila kita perhatikan, ada kendala atau masalah yang memang harus diselesaikan di level government-to-government (G2G), tetapi ada pula yang bisa diupayakan oleh para pelaku ekspor.

Contohnya, untuk memperbaiki perdagangan ekspor dengan AS, Pemerintah RI tampaknya sudah mencoba mengatasinya lewat lobi. Pada 13-15 Mei 2009, Menperdag Mari Elka Pangestu memimpin delegasi Indonesia dalam Pertemuan Bilateral Perdagangan dan Investasi Indonesia-AS Ke-9 di Washington DC. Lewat pertemuan itu didialogkan sejumlah isu perdagangan dengan delegasi AS yang dipimpin Menteri Perdagangan Gary Locke. Antara lain mengenai rencana parlemen AS mengeluarkan aturan baru distribusi rokok (Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act).

Bisa juga, karena permasalahannya cukup luas, seperti di bidang ekspor produk pertanian, pemerintah merasa perlu ikut turun tangan. “Pemerintah akan terus mempelajari kendala-kendala ini dan berusaha menyesuaikan dengan peraturan di negara tujuan yang terus berkembang,” kata Mari dalam kunjungannya ke salah satu eksportir produk pertanian di Pengalengan, Jawa Barat, pada 7 September 2009. “Kami juga akan meminta (data) capacity building dari negara yang bersangkutan untuk membantu kita memahami, dan juga menyiapkan peralatan, lab, dan pengetahuannya. Ini menjadi tugas bersama Departemen Pertanian dan Departemen Perdagangan,” katanya lagi mengenai solusinya.

Solusi lainnya yang tak kalah penting untuk mendongkrak ekspor produk pertanian adalah dengan memperkenalkan dan mengajarkan sistem budi daya pertanian yang baik, yang dikenal sebagai Good Agricultural Practices (GAP). Metode ini sebenarnya sudah dikenalkan di lingkungan negara-negara ASEAN sejak tahun 2000 melalui ASEAN-Australia Development Cooperation Program. Menurut salah seorang pejabat Departemen Pertanian, pihaknya di waktu mendatang akan mendorong penerapan sertifikasi GAP untuk komoditas sayur dan buah, serta registrasi kebun dan rumah pengemasan, sebagai bagian dari penerapan prinsip GAP.

Isu dumping, dalam beberapa kasus, ternyata dianggap isu besar. Tak heran, perwakilan pemerintah kadang perlu turun tangan membantu eksportir nasional. “Tiga tahun lalu kami pernah dituduh dumping, tapi kami bisa buktikan (tidak melakukannya) dan kami menang,” ujar Suhendra dari Pindo Deli. “Kami bangga dan berterima kasih pada pemerintah yang telah membantu meluruskan tuduhan tersebut,” tambahnya.

Solusi ternyata bisa muncul dari mitra bisnis di negara tujuan. Ini dialami oleh PT Hawila, eksportir sayur-mayur. “Pembeli kami ternyata mau membantu, bahkan sampai mengirim orangnya ke sini untuk mengawasi cara kerja kami,” katanya senang. CV Sanindo Putra juga merasakan hal serupa. “Mereka datang men-training (karyawan) kami dalam hal kualitas,” kata Dhian Rahadian, pemilik Sanindo.

Kalangan perusahaan yang bergabung dalam asosiasi tentu bisa berharap organisasinya bisa membantu, misalnya sebagai pressure group. Gapmmi, misalnya punya kepedulian besar pada penanganan hambatan nontarif. Seperti diutarakan Thomas, pihaknya mengusulkan solusi penyesuaian aturan dari negara tujuan ekspor mengingat perbedaan karakteristik alam, terutama terhadap produk sayur dan buah-buahan. “Kalau tidak diberi tahu mereka tak akan tahu. Itu tugas kami,” katanya. Di sisi lain, pelaku ekspor juga harus tahu peraturan yang berlaku di negara tujuan ekspor. Kedua, ia mengusulkan pemerintah mengimplementasi beberapa kebijakan ekspor yang sebenarnya sudah disiapkan, termasuk pemanfaatan Lembaga Pembiayaan Ekspor. Ketiga, ia menyarankan pemerintah mengevaluasi Free Trade Agreement yang sekarang ada, karena cenderung menguntungkan negara eksportir asing mengingat jumlah penduduk Indonesia sangat besar.

Bagi perusahaan besar atau yang memiliki otot finansial kuat, mereka mungkin punya cukup dana untuk mengatasi kendala tersebut. Namun, bagaimana dengan kalangan UKM seperti mereka yang menekuni industri kreatif? Mengikuti pameran internasional rasanya cukup berat. “Sebab membutuhkan back up finansial yang kuat,” kata Achmad dari Siji Lifestyle. Maka, ia sendiri memilih mengikuti berbagai ajang kompetisi berskala internasional yang sering digelar untuk industri kreatif. Siji memang pernah memenangi penghargaan dari USAID pada 2007 atas desainnya yang dinilai eco-friendly. Lalu, untuk mengikuti tren desain dari luar negeri, “Kami banyak membaca majalah gaya hidup dari luar negeri.”

Terhadap UKM ekspor seperti ini, Hesty mengaku akan berkoordinasi dengan Departemen Perindustrian serta Kementerian Koperasi dan UKM. “Kemenkop UKM akan memfasilitasi masalah pembiayaan, Departemen Perindustrian memfasilitasi masalah HAKI dan pengembangan produk, sedangkan kami akan memfasilitasi masalah promosi, branding, dan packaging,” tutur Hesty.

Kendati banyak pihak mengaku bersedia membantu, yang harus diingat, kegiatan ekspor juga mengandung risiko, apalagi di tengah situasi krisis global. Karena itu, demi menghindari kerugian ekspor, Gusmardi tetap menyarankan para eksportir mau memanfaatkan instrumen yang telah disediakan pemerintah, semisal jasa dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia dan Asuransi Ekspor Indonesia.

Yang jelas, para eksportir dan calon eksportir tak perlu kecil hati melihat lanskap bisnis ekspor dunia yang masih dilanda krisis global dan kecenderungan proteksionisme. Sebab, di tengah beribu kendala, masih ada beribu solusinya.

Oleh : Joko Sugiarsono

Reportase: Ahmad Yasir Saputra, Siti Ruslina, Eddy D. Iskandar, Sigit A. Nugroho

Riset: Rachmanto Aris D.

Sumber : swa majalah

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: