//
you're reading...
01. Best Practice

Ario, Bintang Belia di Bisnis Kargo

Bisnis kargo adalah salah satu jenis bisnis lawas. Tak mengherankan, bisnis ini biasanya digeluti pebisnis kawakan. Karena itu, pebisnis muda usia yang menerjuninya bisa dianggap sebagai manusia langka. Salah satu contohnya, Ario Pratomo, yang baru berusia 25 tahun.

Di jagat bisnis kargo nasional, nama Ario memang baru belakangan terdengar. Pria kelahiran 31 Juli 1983 ini masih kalah populer dari ibunya, Rini Walujono, yang sudah menekuni bisnis ini lebih dari 15 tahun dengan bendera PT Speedmark Logistik Indonesia, perusahaan jasa kargo dan forwarding lokal. Namun, kiprahnya di bisnis kargo nasional tak bisa dianggap enteng.

Usia muda memang tak menyurutkan niat Ario mengikuti jejak sang ibu. Bermodal pengalaman selama tiga tahun bekerja di perusahaan ibunya, Ario pun memutuskan menggeluti bisnis kargo dengan perusahaannya sendiri. Tak tanggung-tanggung, maskapai penerbangan top dari Uni Emirat Arab, Etihad Airlines, dia dekati. Targetnya, mendapatkan hak istimewa menjualkan ruang kargo maskapai ini.

Awalnya, pada Juli 2005 ia mendengar informasi maskapai yang berpusat di Abu Dhabi itu akan memasuki pasar Indonesia. “Biasanya maskapai asing yang masuk ke Indonesia akan menjual ruang penumpang dan kargonya secara langsung atau melalui agen. Keahlian saya cuma jual kargo, bukan penumpang. Jadi kenapa tidak dicoba menjadi agen kargonya Etihad?” ungkap Ario mengenang.

Melalui PT Unique Kargonize (UK), perusahaan yang dibesutnya, kemampuan melobi lulusan Edith Cowan University, Australia ini diuji. Ario mengajukan proposal bisnis berdasarkan pengalamannya menangani berbagai divisi di Speedmark. Kapasitas dan cakupan bisnis Speedmark yang memiliki jaringan regional – mulai dari Eropa, Timur Tengah, sampai Amerika Utara – pernah dijajakan Ario. “Saya yakinkan dengan kelebihan dan pengalaman yang dimiliki untuk memenangi tender ini. Proses tendernya dua bulan, hingga akhirnya kami mengalahkan 7 calon agen lainnya,” ujar penggemar sepak bola dan golf ini dengan bangga.

Ario resmi menjadi mitra eksklusif General Sales and Service Agent (GSSA) Etihad Crystal Cargo – divisi kargo Etihad Airlines – untuk Indonesia per 31 Januari 2006. Masa kontraknya tiga tahun. Pada 16 Maret 2006 Etihad Indonesia resmi mengudara untuk pertama kalinya. Tampaknya karena dinilai memuaskan, pada Januari 2009 ini UK mendapat kontrak baru untuk dua tahun mendatang.

Tentunya, dengan posisi sebagai GSSA, UK tidak bisa menjual jasanya langsung ke konsumen (direct shipper market). Karyawan UK yang berjumlah 8 orang harus menjual lewat agen kargo. Dan untuk mencari agen ini dilakukan secara door-to-door, dengan mendekati para agen agar mau memasarkan jasa Etihad. “Ternyata mereka sudah menunggu-nunggu kehadiran Etihad di Indonesia. Hari pertama flight, kargonya langsung penuh, karena sudah dijual sebulan sebelumnya lewat telepon, e-mail, dan sebagainya, ke agen,” Ario menuturkan.

Waktu itu, kapasitas angkut yang ditangani UK sebesar 15 ton per penerbangan, dengan jadwal terbang empat kali seminggu. Ramainya penerbangan pertama itu terbantu oleh musim pengiriman yang cukup padat (peak time) pada bulan Maret dan menjelang akhir tahun (Oktober-Desember).

Kini, Etihad Indonesia terbang setiap hari sekali ke Abu Dhabi menggunakan pesawat Boeing 777-300, yang memiliki kapasitas 374 penumpang. Dari Abu Dhabi, penumpang bisa meneruskan ke 30 kota tujuan. Rata-rata setiap tahun load factor Etihad mencapai 85%. Kapasitas kargo kosong Etihad, jika tidak ada penumpang yang bawa bagasi, sekitar 6 ton.

Diklaim Ario, saat ini UK menyumbang lebih dari 5% pada total pendapatan kargo nasional. Namun, Ario emoh menyebut nilainya. Di Asia, peringkat Indonesia hanya kalah dari Thailand. “Indonesia adalah negara yang cukup pesat perkembangan bisnis kargonya ke Timur Tengah. Dan, kecenderungan bisnis di tahun-tahun mendatang memang mengarah ke sana,” katanya setengah berpromosi. UK sendiri, selain memiliki kantor di Jakarta, juga punya kantor perwakilan di Bali dan Surabaya.

Tak cukup dengan UK, Ario bersama tiga kolega bisnisnya membesut PT Swift Kargonize. Lewat perusahaan ini, Ario mendapat kepercayaan menjadi GSSA Qantas Airways di Bali. Proses ini sudah dilakukan sejak September 2007, tapi penerbangan pertama baru dilakukan pada Januari 2008.

Di perusahaan barunya tersebut waktu Ario rupanya banyak tersita. Apalagi perubahan status dari representasi langsung Qantas menjadi GSSA lebih rumit daripada ketika berhubungan dengan Etihad, yang sebelumnya tidak memiliki representasi langsung di Indonesia. Maka, ia jadi kerap bolak-balik Bali-Jakarta. “Saya ingin terus mengembangkan bisnis kargo ini. Sebab, trennya nanti akan lebih banyak lagi perusahaan penerbangan yang memakai jasa GSSA,” katanya bersemangat.

Oleh : A.Mohammad B.S. & Afiff Maulana Dewanda – sumber : swa majalah

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: