//
you're reading...
02. Sharing Corner

Adu Jurus Cantik di Bisnis Logistik

Kue bisnis logistik makin besar. Jumlah pemain pun makin banyak. Apa saja strategi dan jurus bersaing yang mereka peragakan?

Di era yang mementingkan proses yang serba instan dan efisien seperti sekarang, banyak perusahaan yang tidak mau direpotkan oleh berbagai urusan tetek bengek semisal distribusi, pengiriman ataupun penyimpanan barang. Tak heran, bisnis logistik belakangan ini makin naik daun. Yang paling tampak, nilai bisnisnya terus naik.

Konsultan riset bisnis logistik internasional, Transportation and Logistic Frost & Sullivan Asia Pasifik menyebutkan dalam lima tahun ke depan pasar logistik di Indonesia masih akan terus tumbuh. Pada 2012, volume pasar logistik di Tanah Air diperkirakan mencapai US$ 2,76 miliar, naik rata-rata 12,1% per tahun. Tahun ini, nilai bisnis yang telah tercipta sebesar US$ 1,75 miliar.

Dalam seminar bertajuk Strategic Insights into Indonesia Logistics Industry akhir Agustus lalu, konsultan bidang transportasi dan logistik itu menyebutkan pada 2012 layanan classic outsourcing diperkirakan menguasai 70% dari total pangsa pasar logistik di Indonesia. Volume bisnisnya mencapai US$ 1,93 miliar. Layanan classic outsourcing ini mencakup jasa pergudangan, manajemen pengiriman, dan distribusi. Lalu, untuk jenis advance services volume bisnisnya diperkirakan US$ 0,55 miliar, atau 20% dari total pangsa pasar. Jenis layanan ini mencakup classic outsourcing plus jasa penjemputan, pemasangan label, dan testing. Hingga 2012, pertumbuhan pasar jenis layanan ini diperkirakan mencapai 16,7%.

Sementara itu, khusus untuk layanan komplet (full services) – mulai dari pergudangan hingga konsultasi dan jasa pengiriman (shipment tracking) – diperkirakan mencapai 10% pangsa pasar industri logistik pada 2012. Volume bisnis yang dikuasai industri logistik jenis ini mencapai US$ 0,28 miliar, dengan pertumbuhan pasar 22,5% sejak 2005.

Pengguna terbesar layanan logistik ini adalah industri tekstil (37%); industri manufaktur yang memproduksi produk konsumsi (21%); otomotif (17%); dan gas (10%).

Kategorisasi layanan logistik yang dibuat Frost & Sullivan tersebut berbeda dari penggolongan versi Asosiasi Logistik Indonesia (ALI). Menurut ALI, dilihat dari layanan yang ditawarkan, perusahaan logistik dibedakan menjadi empat tipe layaknya piramida. Lapisan pertama disebut basic service atau outsourcing model yang dikenal dengan istilah logistic service provider (LSP). Rata-rata perusahaan logistik lokal di Indonesia baru memasuki tahap ini. Kedua, value-added atau third party logistic (3PL). Ketiga, lead logistic atau lead logistic provider (LLP). Perusahaan yang mencapai level ketiga ini sudah sangat canggih dan bisnis logistiknya terintegrasi. Contoh untuk level ini hanya dijumpai di perusahaan logistik luar negeri. Dan keempat atau tahap tertinggi adalah advance service atau fourth party logistic provider (4PL).

Terlepas dari perbedaan kategori tersebut, industri ini menyediakan kue bisnis yang amat menggoda. Tak mengherankan, industri ini memberi sumbangsih yang cukup signifikan terhadap pendapatan domestik. Menurut ketua umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo) M. Kadrial, 10% Produk Domestik Bruto Indonesia disumbang dari bisnis jasa logistik.

Besarnya potensi bisnis logistik itu dipengaruhi beberapa faktor. Andrianto Soedjarwo, GM Pemasaran dan Penjualan PT Fajar Insan Nusantara (Fin Logistics) melihatnya sebagai akibat terjadinya globalisasi bisnis, yang memungkinkan banyak perusahaan asing masuk ke Indonesia. Selain itu, beberapa sektor industri di Indonesia berkembang pesat, sehingga memilih jasa alih daya (outsourcing) agar bisa fokus pada pengembangan bisnisnya.

Handi Syarif, Direktur Pengelola PT Pandu Siwi Sentosa, mengemukakan hal senada. “Potensi pasar yang besar ini memang secara langsung juga dipengaruhi oleh tren perusahaan multinasional dan nasional untuk memfokuskan diri pada bisnis intinya,” ujar Handi. Tak hanya itu, otonomi daerah juga dinilainya turut menggairahkan bisnis logistik. Walaupun arus barang dari daerah ke Jakarta belum sebesar dari Jakarta ke daerah, grafiknya menunjukkan kenaikan secara konsisten.

Boleh jadi, karena kue bisnisnya cukup menggoda, jumlah pemainnya makin banyak. Mulai dari yang sekadar menawarkan layanan dasar (basic services) seperti kurir, pergudangan, atau distribusi, hingga yang menyediakan layanan terintegrasi (total logistic solution). Saat ini, menurut Asperindo, ada sekitar 940 perusahaan yang bermain di bisnis jasa titipan. Namun, hanya 135 perusahaan jasa titipan yang terdaftar di Asperindo. Sementara menurut catatan ALI ada lebih dari 300 perusahaan. Itu pun hanya untuk wilayah Jakarta. Adapun dalam data Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) tercatat 3.207 perusahaan.

Dari sejumlah penyedia jasa logistik tersebut, mayoritas merupakan perusahaan lokal. Ironisnya, menurut Gafeksi, saat ini sekitar 75% dari total volume logistik masih dikuasai perusahaan asing. Masih menurut Gafeksi, perusahaan asing itu menguasai 100% pasar di Batam, 95% DKI Jakarta, 90% Jawa Tengah, 75% Jawa Timur, dan 70% Bali.

Selain soal penguasaan pasar, para pemain logistik lokal pun kesulitan dalam melakukan pengiriman ke luar negeri. Bagaimana tidak, hampir 99% pengiriman jasa ekspres ataupun logistik yang masuk dan ke luar Indonesia masih dikuasai perusahaan asing. Oleh karena itu, kini beberapa pemain lokal mencari alternatif untuk menyiasati. Salah satu caranya dengan menjajaki kemungkinan bekerja sama dengan mitra luar negeri untuk memenuhi permintaan konsumen dan memasuki pasar Asia Tenggara, bahkan Asia. Pandu Siwi salah satu pemain yang telah memutuskan kemungkinan ke arah itu. “Kerja samanya bisa merger atau kerja sama operasional. Jika kerja sama ini benar-benar terjadi, pertumbuhan Pandu Siwi bisa mencapai angka berkali-kali lipat,” ujar Handi optimistis.

Upaya semacam juga dilakukan Fin Logistics. Menurut Andrianto, untuk memperluas jaringan di tingkat internasional, pihaknya bekerja sama dengan beberapa agen global. Misalnya, Hellmann Worldwide Logistics, yang memiliki 341 kantor perwakilan di seluruh dunia. Fin bermitra pula dengan MOL Logistics. “Di bisnis logistik kami tidak bisa hidup sendiri, butuh kemitraan. Itu bisa dilakukan melalui kerja sama dengan perusahaan bisnis sejenis yang tidak memiliki kantor di Indonesia untuk mewakilkan bisnisnya. Melalui cara ini justru akan memperluas pasar dan menambah revenue perusahaan,” Andrianto menjelaskan.

Banyaknya pemain di bisnis logistik ini mengakibatkan tingkat persaingan semakin ketat. TNT Express Indonesia, misalnya, walaupun didukung nama besar dan jaringan multinasional, tetap merasakan persaingan yang makin ketat dalam mendapatkan konsumen korporat. “Dengan semakin banyaknya pemain bisnis logistik, kami harus merapatkan barisan. Bukan hanya di Indonesia, tapi seluruh jaringan TNT, karena berbicara logistik tidak terlepas dari distribusi perpindahan barang,” ujar Andy Adiwinarso, Country Director Pemasaran dan Penjualan PT Skypak International-TNT Express Indonesia.

Lantas, bagaimana mereka menerapkan strategi bersaing? Menurut Andrianto, strategi bisnis yang dikembangkan perusahaannya berbasis corporate culture. Prinsip yang diterapkan mencakup: bersih (baik internal maupun eksternal); rapi dalam bekerja ataupun penampilan; cepat dalam bekerja; teliti; dan berkomitmen.

Andrianto mengungkapkan pula, untuk menghadapi persaingan pihaknya siap melakukan strategi fleksibilitas. Maksudnya, jasa yang ditawarkan bersifat lebih fleksibel. “Konkretnya, kami mencoba mencari tahu apa yang diinginkan pelanggan. Lalu, dibuat solusi logistik sedemikian rupa sehingga memenuhi permintaan mereka. Intinya membuat mereka lebih nyaman,” tutur Andrianto.

Sementara itu, TNT Express Indonesia menyiasatinya dengan cara mendatangkan armada pesawat kargo di kawasan Asia. April lalu, TNT International telah mendatangkan pesawat jenis kargo (pengangkut barang) Boeing 747-400 yang memiliki rute penerbangan Eropa-Singapura-Cina-Eropa untuk memperkuat basis pengiriman terutama untuk kegiatan ekspor-impor. Selain itu, perusahaan ini mempersiapkan pula lebih dari 200 armada darat berupa mobil dan truk untuk mendukung pergerakan barang pengiriman.

Upaya serupa tampaknya akan diikuti Pandu Siwi. Perusahaan ini sedang mempertimbangkan pilihan: membeli beberapa unit pesawat kargo atau menyewa pesawat asal Singapura, Amerika Serikat dan Eropa. Pasalnya, menurut Jimmi Krismiardhi, GM Pengembangan Bisnis Pandu Siwi, jika mengandalkan pesawat komersial, pengiriman barang tidak diprioritaskan. Selain itu, jumlah muatan di pesawat komersial jauh lebih kecil dibanding pesawat kargo. “Selama ini Pandu Siwi telah bekerja sama dengan hampir seluruh armada penerbangan komersial seperti Garuda Indonesia dan Lion Air dalam mendistribusikan barang kiriman,” Jimmi menerangkan.

Selain menjalankan aktivitas jemput bola ke pelanggan korporat, lanjut Jimmi, pihaknya juga mengerahkan para kurirnya menjadi tenaga penjual secara tidak langsung. “Para pengantar ini kami beri pelatihan untuk mendapatkan penjualan secara berkelanjutan,” Jimmi menuturkan. Tak hanya itu, untuk memberi nilai tambah bagi pelanggan, Pandu Siwi memberi kenyamanan pada pelanggannya, yakni pelanggan bisa melihat pergerakan kiriman barang melalui website.

Sekarang, para pelaku bisnis logistik juga mesti mempertimbangkan aspek teknologi informasi (TI) sebagai penopang utama kegiatan usahanya. “Saat ini, penggunaan TI semakin mendesak dijalankan para pemain di usaha jasa titipan ataupun logistik. Sebab, perpindahan barang diikuti perpindahan informasi, dan perpindahan keduanya harus diketahui oleh konsumen,” papar Kadrial.

Berbicara mengenai penggunaan TI, perusahaan logistik asing sudah relatif lebih maju. TNT Express Indonesia, misalnya, telah melengkapi armada daratnya dengan tracking system, sehingga bisa memantau pergerakan barang kiriman tanpa takut akan terlambat karena salah alamat atau tidak tahu rute yang dilewati. Selain itu, TNT International juga mengembangkan proyek standardisasi sistem TI di seluruh kantor mereka di 200 negara dengan nama Common System Project. “Proyek ini ingin menyamakan TI di tiap negara dengan menggunakan sistem dan bahasa pemrograman yang sama,” kata Andy. Penyeragaman TI ini termasuk dalam hal operasional, penjualan, dan pelayanan pelanggan.

Perusahaan logistik asing lain yang sudah memanfaatkan aplikasi TI yang terintegrasi untuk menopang bisnisnya adalah CEVA Logistics. Perusahaan ini telah memiliki sistem TI terintegrasi yang dibangun di atas empat metode, yakni: Zero Defect Start-Up, SMART Solution, LEAN Program, dan Global Standard Metrics. “Keempat metode itu digunakan sebagai koridor untuk menjalankan pelayanan logistik secara standar untuk industri seperti otomotif dan manufaktur, sehingga bisa lebih cepat, efektif dan meningkatkan produktivitas,” papar Rita Boyle, Country General Manager Contract Logistics CEVA Logistics Indonesia, mengklaim

Ditambahkan Subhan Novianda, Country IT Manager CEVA Logistics, TI berperan sangat penting dalam sistem pergudangan. Misalnya, dengan Global Standard Metrics pihaknya mampu mengintegrasikan sistem pergudangan, transportasi, jalur logistik, dan monitoring yang semua itu terintegrasi dengan sistem TI pelanggan. “Keunggulannya menghasilkan supply chain visibility. Pelanggan akan tahu kapan datangnya barang, masuk ke gudang, kapan dikirim, dan sampai ke tujuan,” ucap Subhan.

Memang, penerapan TI canggih dan terintegrasi membutuhkan modal besar. Terlebih jika solusi TI yang digunakan buatan vendor luar. Padahal, tidak semua solusi TI dari luar itu cocok dengan medan bisnis di Tanah Air. Nah, dengan alasan seperti ini, kini berkembang pengembang aplikasi lokal yang menawarkan solusi TI tak kalah andal untuk mendukung kegiatan bisnis logistik ini, seperti Kontinum dan Pratesis. Solusi yang mereka tawarkan memiliki tingkat pemahaman kondisi lokal yang relatif lebih akurat dengan harga lebih kompetitif. Bahkan, teknologi Scylla dari Pratesis menawarkan solusi terintegrasi dari hulu ke hilir, yang sudah digunakan oleh banyak perusahaan distribusi (logistik) lokal ataupun multinasional.

Dengan dunia yang semakin flat dan interaksi yang makin terbuka, diperkirakan bisnis logistik masih akan terus berkembang. Begitu pula dengan jumlah pemainnya, baik di lapangan utama maupun di jasa pendukungnya.

Oleh : A. Mohammad B.S. – Reportase: Fadlly Murdani, Moh. Husni Mubarak dan Rias Andriati – Riset: Ratu Nurul Hanifah – sumber : swa majalah

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: